LAGI !!! NTT DIBULLYNG
Kita hidup butuh kopi, butuh suasana hangat disetiap aktivitas sehari-hari. Kehidupan sekarang buah dari perjalanan masa lalu, dan tindakan sekarang akan menjadi tolak ukur seperti apa kita nanti.
Berziarah kemasa lalu menjadi suatu pengelaman yang sangat bermanfaat, menjadi suatu hal yang murah meriah dan tentunya menjadikan kita siap untuk menerima keadaan kita sekarang ini.
Kita saat ini terlalu sibuk untuk mengutuk bahkan meludahi situasi sekarang. Untuk itu perlu kita menengok kebelakang untuk lebih bijak lagi dalam melihat realitas kekinian.
Sekarang kita begitu marah, mengutuk keras pernyataan dari seorang anggota DPR pusat terkait tentang parawisata. Katanya "NTT tidak ada apa apanya hanya komodo" dengan pendasaran bahwa karna dikelas nasional dan dunia hanya mengenal itu. Maka kita harus realistis juga bahwa NTT hanya itu yang jadi terkenal.
Kita kembali mengoreksi juga kata mantan mentri pendidikan diera priode pertama Jokowi, Muhadjir Effendi terkait dunia pendidikan NTT yang berada ditingkat paleng rendah SeIndonesia ditahun 2017 lalu. Sama. Saat itu semua marah, banyak kalangan dari mahasiswa, pekerja seni, politisi semua marah.
Jika kita jujur pada masa lalu maka kita tidak ada apa apanya bahkan disaat awal persiapan dan perjuangkan NTT jadi Propinsi sendiri, kita dibully habis oleh Mendagri saat itu Sanusi Hardjadinata.
Dalam dialog dengan Pak Frans Sales Lega kata Mendagri tersebut, Berapa sarjana kamu punya untuk bikin propinsi ?
Dengan tenang Politisi dari Flores ini pun langsung membalasnya justru; kami bikin sarjana, kami mau bentuk propinsi. Beliau pun langsung kembali bertanya yang membuat Pak Sanusi diam seribu bahasa. Berapa sarjana diIndonesia ketika proklamasi 17 agustus 1945 ?
Itulah realitas NTT masa lalu yang penuh dengan keterbatasannya, fakta sejarah yang unik diawal awal tahun 1957 an ini.
Artinya semua kejadian yang menimpah kita saat ini harus menjadi suatu renungan kita bersama. Berapa Sarjana yang kita punya, yang bisa mendongkrak perekonomian kita sendiri lewat kualitas SDM ? Jelas ini menjadi tantangan kita sendiri saat ini.
Selain itu kita juga perlu belajar bagaimana membalas bullying dengan bullying yang setimpal. Para politisi maupun mahasiswa, dan semua warga NTT kita tidak perlu membalas dengan mengutuk atau pun meludahi karna ketika kita mengutuk dan meludahi maka SDM kita akan kembali dinilai. Kita lebih tersingkirkan lagi. Maka dari itu kita perlu berdikari, membangun kualitas diri kita untuk lebih bermanfaat bagi tanah Flobamora tercinta ini. Semua profesi harus saling bahu membahu untuk membangun NTT yang lebih baik lagi dan tentunya harus mampu bersaing ditingkat nasional maupun dunia.
Sekian...Maju teruss NTT
Komentar
Posting Komentar