UNDANA MEMANGGIL
MAHASISWA BARU
Udara kian panas, ditengah hiruk pikuknya kota. Manusia berkeliaran dijalanan dan tak satupun saling memberi salam saat berpapasan.
Peduli apa aku, ungkapan dalam hatiku saat masuk dalam drama kehidupan kota yeng penuh dengan manusia individualistik.
DiKota tepatnya Kota Kupang ibu kota dari propinsi yang dulunya Sunda Kecil namun ditahun 1958 menjadi propinsi sendiri.
Menjadi propinsi tersendiri merupakan rentetan dari perjuanga para intelektual jaman itu seperti Ben Mboi, Tobing yang berperan sebagai ketua delegasi ke Jakarta dengan Lega sebagai juru bicara, N.D Dillak dan Piet Parera.
Ben Mboi, Lega menceritakan pertemuannya dengan Mendagri Sanusi. ”Berapa sarjana yang kau punya untuk bikin Propinsi?” tanya Sanusi kepada Lega.
‘Justru supaya kami bikin sejarah, kami mau bentuk propinsi’ jawab Lega yang balik bertanya, berapa sarjana di Indonesia ketika proklamasi 17 agustus 1945?” Sanusi pun tidak menjawab.
Upaya lain pun ditempuh oleh Stephanus Ndoen dengan melakukan diplomasi olahraga. Timor mengirim kontingen yang terpisah dari kontingan Nusa Tenggara ke Pekan Olahraga Nasional IV tahun 1957 di Makassar. Atlet atlet seperti Nani Manoe, Rudy Leiwekabessy, J.N Manafe, kelompok pemanah dari Alor dan atlet sepak bola yang tidak bisa disebut satu persatu.
Kisah sejarah yang masih membekas diingatan ku.
Disinilah ceritaku bermula, aroma kampungku perlahan menghilang terbawah oleh udara metropolitan.
Dengan pakaian yang masih baru aku berdiri dibibir jalan menunggu angkot menuju tempat menuntut ilmu. Setengah jam aku menungguakhirnya pucuk dicinta wulan pun tiba, angkot dengan konjaknya yang kriting menawarkan aku agar naik diangkot tuk menambah keuangan Sang Supir, dengan senyum aku pun mengiyakan.
Tepat didepan gerbang UNDANA salah satu kampus terbesar diNTT.
UNDANA berdiri pada tanggal 1 september 1962 dan sekarang memiliki 9 fakultas dengan 47 program studi, serta 6 program pasca sarjana. Tenaga pendidik yang ada di UNDANA kini mencapai 924 orang dengan jumlah mahasiswa melebihi 20.000 orang. UNDANA juga ditopang oleh kerja keras 600 staf pendukungnya. Sejak tahun 1962, UNDANA telah melahirkan lebih dari 36.000 lulusan, 70% diantaranyabekerja sebagai pegawai negri diberbagai daerah di NTT maupun diluar propinsi.Banyak dari lulusan UNDANA memegang posisi posisi vital dipemerimtahan dan berbagai perusahan tempat mereka bekerja. Keberasilan lulusan UNDANA telah memperkuat kedudukan UNDANA sebagai universitas yang berkualitas baik di Indonesia.
Sambil bernostalgia dengan sejarah UNDANA akupun langsung memberhentikan angkot. Sang supir denga sigapnyamengerem angkot dan stop, 2000 aku membayar di konjak. Setelah turun dari angkot aku pun langsung berjalan perlahan menjauh dari pandanganku. Karna ruang kuliahku masih jauh didalam kampus aku pun harus naik angkot dalam kampus yang memiliki aturan tersendiri yaitu dilarang membuka music dengan volume besar, supir dan konjak harus bersepatu dan celana panjang layaknya mahasiswa. Entah aturan tersebut bersumber dari mana aku tidak tau. Yang pastinya konjak dan supir harus mentaati segala aturan yang dikeluarkan oleh pihak kampus. Akhirnya sampai depan digudang ilmu ruang kuliah tepatnya. 2000 bayarannya masih sama. Aku pun langsung bergegas menuju dalam ruang kuliah. Sampai didalam ruang kuliah dengan semangat 45 ditambah perasaanku saat itu seperti pelangi aku langsung mencari kursi yang ada dibarisan paling depan untuk menunggu dosen sang pemberi ilmu. Begitu bahagianya aku menjadi mahasiswa setelah melewati pendidikan SMA. Dan juga berkat kerja keras ayah dan ibuku menjadikanku seperti ini, terimah kasih ayah bundaku do’aku selalu terbaik untukmu.
Komentar
Posting Komentar